Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 16 November 2014

Aku, Telor, dan Kecap

Tepatnya kemarin malam waktu Aku lagi mengerjakan "maha karya" ku (kalau sudah selesai Insya Allah Aku share disini), Mamaku tiba-tiba datang ke kamarku dan bilang "Anaknya teman Mamak, masih kecil sudah kena penyakit di Payudaranya. Katanya semacam benjolan gitu." Lalu dengan datar sambil terus mengerjakan karyaku itu, Aku jawab "Sudah biasa itu, sudah gak aneh. Mungkin Anaknya setiap hari makan enak terus."
Kulihat agak sedikit bingung, Mamak bilang " Oh ya??? Karena sering makan enak terus gitu??? Mamak kira sakit seperti itu cuma dialami sama Ibu-ibu yang setelah melahirkan tapi ASInya gak keluar." dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke arahku yang begitu serius dengan karyaku, Mamak melanjutkan "Selama ini Mamak kira kalau bejolan di Payudara itu adalah Kanker, teryata bukan ya?"
Melihat keseriusan Mamak dalam pembahasan ini, Aku mengalihkan fokusku sejenak dan bilang "Benjolan di Payudara itu gak selalu Kanker, kan ada jenis-jenisnya. Kanker pun ada jenisnya. Kita lihat lagi dari karakteristik benjolan dan anamnesa Pasiennya Mak. Itu pun belum cukup, masih harus dilakukan pemeriksaan diagnostik untuk menunjang diagnosa, dll." Tak bermaksud menggurui, lalu Aku kembali mengerjakan karyaku itu.

........... hening sejenak sampai akhirnya Mamak bilang

"Masa gitu, sering makan enak jadi penyebab benjolan???

Melihat kebingungan Mamak, Aku sontak menjawab "Makanya, beruntunglah Kita yang makannya biasa aja. Isi kulkas pun gak pernah lepas dari Telor dan Kecap."

Lalu Mamak dan Aku tertawa terbahak-bahak. *HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

Ya, sedikit flash back ke masa lalu tepatnya sejak Aku masih duduk di sekolah dasar sampai saat ini memang Telor dan Kecap itu sepertinya menjadi sesuatu yang tidak boleh sampai terlewatkan. Selain murah, juga mudah untuk diolah, dan yang penting enak dimakan bersama apa saja.

Dengan mengesampingkan mitos "Banyak makan telor nanti bisulan" Telor berhasil menempatkan dirinya dalam urutan pertama yang Aku  ingat tiap kali cacing-cacing menggelar konser cetar dan menari maju-mundur cantik dalam perutku.

Kalau orang cina menerapkan "makan nasi bubur" sebagai bentuk rasa prihatin atas kehidupannya, dan akan berubah pelan-pelan seiring meningkatnya taraf hidup.
Kalau di rumah menerapkan "jangan sampai kehabisan stok Telor dan Kecap" sebagai bentuk rasa prihatin atas kehidupan di masa lalu, namun perbedaannya adalah, hal itu masih terus ada sampai saat ini meskipun kehidupan Kami sudah sangat jauh lebih baik. *HAHAHAHAHAHAHAHA

Kadang dengan melihat Telor dan Kecap, bisa membuat rasa syukur tersendiri bagiku.
Sampai-sampai Telor dan Kecap menjadi makanan paling favorit buat Aku. Mungkin kalau ada Pizza atau Spaghetti atau makanan modern lainnya dan ada Telor + Kecap, Aku akan dengan tegas memilih Telor dan Kecap. *Sedikit lebay hana peu-peu lah =D

Ya, begitulah awal mula persahabatan antara Aku, Telor, dan Kecap. *HAHAHAHAHAH

Dan ya,
Aku dan Mamak terus tertawa sampai-sampai Aku gak sanggup lagi mengerjakan karyaku. *Alesan aja sih, yang sebenarnya sudah capek dan ngantuk =P

Selain Telur Ayam Negeri, Aku juga suka banget Telur Ayam Kampung.

Aku paling suka banget masak Telor dadar, mulai dari yang basah sampai yang kering bisa. Untuk yang tipe basah mungkin semua orang bisa, tapi kalau tipe yang kering Aku jamin gak semua orang bisa, karena Ayahku yang jago masak aja belum bisa nemuin formulaku bikin Telor dadar kering. *HAHAHAHAHA
Berawal dari persahatanku dengan Telor inilah Aku jadi suka masak, dan merambah ke bikin Cake, Cokelat Praline, sampai penganan iseng-iseng sebagai teman saat nonton tipi. Oh ya, ilmunya juga Aku dapat dari Tanteku (Tante Ella) yang super duper deh jago banget soal pembuatan Cake apapun dan olahan cokelat apapun.

Kecap A*C adalah favoriteku. Tapi sekarang sulit banget mendapatkan itu. Sekarang lebih banyak merk lain. Meski begitu, A*C tetap selalu di hati.

Entah sampai kapan Telor dan Kecap menemani Aku, mungkin sampai nanti.. *HAHAHAHAHA


Jumat, 14 November 2014

A Walk To Remember...

Tepatnya beberapa minggu yang lalu di bulan Oktober, Aku sama keluarga pergi ke rumah Om di Cibubur.
Seperti biasa, Jakarta memang tidak akan pernah lengang bahkan dihari libur pun.

Aku yang duduk di kursi tengah tepat dibelakang Adikku yang saat itu nyetir manis, sibuk ber #Selfie menghadap jendela, sampai tak terasa Kami sudah sampai di Jembatan Tomang mengarah ke Slipi.
Aku cepat-cepat tersadar dan mulai melihat pemandangan dari atas Jembatan.
#Macet dan tiba-tiba mataku terfokus pada beberapa penjaja makanan yang sudah tidak asing lagi Kami temui dijalur tanpa hambatan.

Sungguh berani, nekat, atau apapun itu Mereka berjuang mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit demi untuk menyambung hidup.
Saat itu Aku berpikir cuaca begitu panas, dan jembatan ini cukup panjang dan tinggi untuk Mereka susuri, namun Aku cepat paham itu adalah hal yang biasa buat Mereka bila melihat kaki-kaki yang begitu keras dan berurat.

Secepat kilat Aku coba meraih Note ku untuk mengabadikan Mereka, tapi sepertinya Aku belum begitu beruntung, Adikku mempercepat lajunya seiring dengan mulai lengangnya jalanan.

Ditengah kekecewaanku yang tidak terlalu, terlintas dalam pikiranku betapa Aku sebelumnya kurang mensyukuri apa yang Aku punya dan Aku raih.
Banyak dari teman-teman kuliahku menginginkan untuk bisa bekerja di tempat Aku bekerja, *Untuk fresh graduate,  bisa menjadi bagian dari RS paling bonafit elit dan menggigit adalah suatu keberuntungan yang tidak semua orang dapatkan. Harus melalui serangkaian tes yang tidak mudah dengan Dokter dan Perawat yang dari wajahnya saja sudah killer, ditambah lagi dengan sistem gugur yang dijalankan."
Terbukti dari beberapa temanku mencoba tapi tak satupun yang berhasil diterima.
Dengan penghasilan yang Aku punya, Aku bahkan bisa membeli apa saja yang Aku inginkan, tapi semua itu belum membuatku mensyukuri keberuntunganku hingga akhirnya Aku memilih resign pada tahun 2013, dan memang saat itu ada hal yang sungguh diluar batas toleransiku terhadap seniorku yang menurutku tidak sepantasnya dia melakukan hal itu.

Lepas dari RS itu, Aku tak langsung mencari penggantinya.
Aku memilih untuk menikmati masa #bebas ku.
Aku travelling ke Yogyakarta, Palembang, Kediri, benar-benar Aku nikmati dan manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, seperti balita yang baru bisa berjalan. *Ahahahaha 

Setelah semuanya, memasuki tahun 2014 Aku mulai mencari pekerjaan baru.
Sangatlah mudah saat itu, dalam waktu sekejap Aku sudah mulai bekerja di salah satu Perusahaan yang bergerak di bidang TPA dan berada langsung dibawah PT. Telkom Indonesia, dengan penghasilan yang sedikit lebih tinggi dari yang Aku dapatkan selama di tempat kerjaku sebelumnya.

Dan lagi, hal itu tidak juga membuatku mensyukuri keberuntunganku.
Setelah bekerja hampir 1 tahun lamanya, Aku memilih untuk resign, #Masih berharap mendapatkan yang jauh lebih baik.

Hingga saat ini, sudah 3 bulan sejak Aku memutuskan untuk resign, Aku belum mendapat pekerjaan baru.
Terlambat memang untuk menyadari sebuah penyesalan, ya, terlambat.
Perjalanan ku kali ini, Para penjaja makanan di jalan itu telah membuka mataku betapa seharusnya Aku bersyukur atas apa yang Aku punya.

Aku berharap untuk tidak mengulangi kesalahanku yang lalu, Aku berharap di berikan kesempatan untuk bisa mendapat pekerjaan yang sesuai yang memang terbaik bagiku padaNya, dan Aku Insya Allah lebih bersyukur dan menjalani dengan sebaik-baiknya.

Oh ya, Akhirnya Aku berhasil mengabadikan beberapa foto dalam perjalananku..



Foto ini diambil ditengah macetnya jalanan Ibu Kota. Salah seorang dari penjual 
 makanan sadar kalau ada kamera yang mengintai Mereka, ya bagaimana tidak, Aku mengambil gambar Mereka menggunakan gadget berukuran 10.1 inchi #AHAHAHA
Tak lupa Aku berteriak mengucapkan terima kasih telah berkenan untuk Ku ambil gambar Mereka ^_^

 

Bapak ini seorang Tuna Netra, namun kekurangannya itu tak serta merta membuatnya pasrah tanpa berusaha. Beliau berjalan kaki menjajakan Kerupuknya, sistem yang digunakan adalah kejujuran, dan Bapak ini tampak ikhlas bila saja ada seseorang yang memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan dari kekurangannya. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Bapak ini dari marabahaya dan juga orang-orang yang berniat buruk padanya.



Gambar di atas dan di bawah ini adalah pengamen.
Cara unik yang mereka gunakan dalam mengumpulkan sekerenceng rupiah.
YA, Mereka tidak malu untuk memakai kostum seperti yang terlihat dalam gambar, lalu Mereka berjoget dengan alunan musik dangdut yang diputar melalui sebuah speaker kecil yang diletakannya di trotoar di pinggir jalan.
Mereka tidak bisa menerima uang receh maupun kertas yang ingin Kita berikan.
Satu-satunya cara adalah dengan melemparnya ke tempat dimana Mereka berdiri.
Menurut hematku, mungkin setelah hari menjelang malam, dan saat Mereka sudah merasa cukup atas uang yang dihasilkan, maka Mereka akan memungutnya lalu menyimpannya disebuah tempat di kotak speaker itu, kemudian beranjak pulang. #Entahlah



Aku ucapkan terima kasih atas pelajaran hidup yang Aku dapat dari Mereka.
Aku akan lebih mensyukuri atas apa yang Aku punya.
Hidup melihat ke atas untuk sebuah motivasi dan menyadari bahwa Aku bukanlah apa-apa tanpaNya.
Dan hidup melihat ke bawah untuk membuatku selalu merasa bersyukur atas apa yang Aku punya dan menyadari betapa besar karuniaNya untuk Aku.

 

Jumat, 07 November 2014

CINTA yang Aku sembunyikan darimu...

Hari ini rasanya aneh...
Bolak-balik, naik-turun, keluar-masuk, semuanya gak jelas..
serba salah, dan bikin kepala pusing tujuh keliling!

Apa ya yang salah sama hari ini??? *Berpikir keras*

..... Beberapa detik kemudian

#Oops *Sambil taruh jari telunjuk di depan bibir yang sedikit agak di majuin*

I thought I knew what's happened to me! *Kemudian lampu terang diatas kepala*
  
"Rindu"

Yaps, mungkinkah Saya sedang merindukan seseorang???
Ataukah seseorang yang sedang merindukan Saya??? *Maunya sih begitu.. Tapi... Ah lupakan*

Rindu yang kembali melesat dalam pikiran Saya ini, kenapa sulit sekali dibendung...
Semakin Saya diam, semakin lelah, dan semakin rindu... #Allahu

Begitu beratnya menahan hasrat diri untuk mengungkapkan isi hati yang begitu dalam dan tulus kepada seseorang disana..
Jikalau Engkau menakdirkan dua jiwa untuk bersatu, Aku ingin sekali berharap dua jiwa itu adalah Aku dan Dia #Aamiin Ya Robbal'alamiin

Tapi apapun itu,
Mungkin lebih baik untuk terus menyembunyikannya jauh ke dalam dasar hati..


Aku di Pulau Seribu

Mengutip kata-kata sarat makna dari Om Darwis Tere Liye:

"Orang-orang yang merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti dengan yang lebih baik."

Aamiin Allahumma Aamiin :) 

Dia di Pulau Dewata