Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 14 November 2014

A Walk To Remember...

Tepatnya beberapa minggu yang lalu di bulan Oktober, Aku sama keluarga pergi ke rumah Om di Cibubur.
Seperti biasa, Jakarta memang tidak akan pernah lengang bahkan dihari libur pun.

Aku yang duduk di kursi tengah tepat dibelakang Adikku yang saat itu nyetir manis, sibuk ber #Selfie menghadap jendela, sampai tak terasa Kami sudah sampai di Jembatan Tomang mengarah ke Slipi.
Aku cepat-cepat tersadar dan mulai melihat pemandangan dari atas Jembatan.
#Macet dan tiba-tiba mataku terfokus pada beberapa penjaja makanan yang sudah tidak asing lagi Kami temui dijalur tanpa hambatan.

Sungguh berani, nekat, atau apapun itu Mereka berjuang mengumpulkan rupiah sedikit demi sedikit demi untuk menyambung hidup.
Saat itu Aku berpikir cuaca begitu panas, dan jembatan ini cukup panjang dan tinggi untuk Mereka susuri, namun Aku cepat paham itu adalah hal yang biasa buat Mereka bila melihat kaki-kaki yang begitu keras dan berurat.

Secepat kilat Aku coba meraih Note ku untuk mengabadikan Mereka, tapi sepertinya Aku belum begitu beruntung, Adikku mempercepat lajunya seiring dengan mulai lengangnya jalanan.

Ditengah kekecewaanku yang tidak terlalu, terlintas dalam pikiranku betapa Aku sebelumnya kurang mensyukuri apa yang Aku punya dan Aku raih.
Banyak dari teman-teman kuliahku menginginkan untuk bisa bekerja di tempat Aku bekerja, *Untuk fresh graduate,  bisa menjadi bagian dari RS paling bonafit elit dan menggigit adalah suatu keberuntungan yang tidak semua orang dapatkan. Harus melalui serangkaian tes yang tidak mudah dengan Dokter dan Perawat yang dari wajahnya saja sudah killer, ditambah lagi dengan sistem gugur yang dijalankan."
Terbukti dari beberapa temanku mencoba tapi tak satupun yang berhasil diterima.
Dengan penghasilan yang Aku punya, Aku bahkan bisa membeli apa saja yang Aku inginkan, tapi semua itu belum membuatku mensyukuri keberuntunganku hingga akhirnya Aku memilih resign pada tahun 2013, dan memang saat itu ada hal yang sungguh diluar batas toleransiku terhadap seniorku yang menurutku tidak sepantasnya dia melakukan hal itu.

Lepas dari RS itu, Aku tak langsung mencari penggantinya.
Aku memilih untuk menikmati masa #bebas ku.
Aku travelling ke Yogyakarta, Palembang, Kediri, benar-benar Aku nikmati dan manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, seperti balita yang baru bisa berjalan. *Ahahahaha 

Setelah semuanya, memasuki tahun 2014 Aku mulai mencari pekerjaan baru.
Sangatlah mudah saat itu, dalam waktu sekejap Aku sudah mulai bekerja di salah satu Perusahaan yang bergerak di bidang TPA dan berada langsung dibawah PT. Telkom Indonesia, dengan penghasilan yang sedikit lebih tinggi dari yang Aku dapatkan selama di tempat kerjaku sebelumnya.

Dan lagi, hal itu tidak juga membuatku mensyukuri keberuntunganku.
Setelah bekerja hampir 1 tahun lamanya, Aku memilih untuk resign, #Masih berharap mendapatkan yang jauh lebih baik.

Hingga saat ini, sudah 3 bulan sejak Aku memutuskan untuk resign, Aku belum mendapat pekerjaan baru.
Terlambat memang untuk menyadari sebuah penyesalan, ya, terlambat.
Perjalanan ku kali ini, Para penjaja makanan di jalan itu telah membuka mataku betapa seharusnya Aku bersyukur atas apa yang Aku punya.

Aku berharap untuk tidak mengulangi kesalahanku yang lalu, Aku berharap di berikan kesempatan untuk bisa mendapat pekerjaan yang sesuai yang memang terbaik bagiku padaNya, dan Aku Insya Allah lebih bersyukur dan menjalani dengan sebaik-baiknya.

Oh ya, Akhirnya Aku berhasil mengabadikan beberapa foto dalam perjalananku..



Foto ini diambil ditengah macetnya jalanan Ibu Kota. Salah seorang dari penjual 
 makanan sadar kalau ada kamera yang mengintai Mereka, ya bagaimana tidak, Aku mengambil gambar Mereka menggunakan gadget berukuran 10.1 inchi #AHAHAHA
Tak lupa Aku berteriak mengucapkan terima kasih telah berkenan untuk Ku ambil gambar Mereka ^_^

 

Bapak ini seorang Tuna Netra, namun kekurangannya itu tak serta merta membuatnya pasrah tanpa berusaha. Beliau berjalan kaki menjajakan Kerupuknya, sistem yang digunakan adalah kejujuran, dan Bapak ini tampak ikhlas bila saja ada seseorang yang memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan dari kekurangannya. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Bapak ini dari marabahaya dan juga orang-orang yang berniat buruk padanya.



Gambar di atas dan di bawah ini adalah pengamen.
Cara unik yang mereka gunakan dalam mengumpulkan sekerenceng rupiah.
YA, Mereka tidak malu untuk memakai kostum seperti yang terlihat dalam gambar, lalu Mereka berjoget dengan alunan musik dangdut yang diputar melalui sebuah speaker kecil yang diletakannya di trotoar di pinggir jalan.
Mereka tidak bisa menerima uang receh maupun kertas yang ingin Kita berikan.
Satu-satunya cara adalah dengan melemparnya ke tempat dimana Mereka berdiri.
Menurut hematku, mungkin setelah hari menjelang malam, dan saat Mereka sudah merasa cukup atas uang yang dihasilkan, maka Mereka akan memungutnya lalu menyimpannya disebuah tempat di kotak speaker itu, kemudian beranjak pulang. #Entahlah



Aku ucapkan terima kasih atas pelajaran hidup yang Aku dapat dari Mereka.
Aku akan lebih mensyukuri atas apa yang Aku punya.
Hidup melihat ke atas untuk sebuah motivasi dan menyadari bahwa Aku bukanlah apa-apa tanpaNya.
Dan hidup melihat ke bawah untuk membuatku selalu merasa bersyukur atas apa yang Aku punya dan menyadari betapa besar karuniaNya untuk Aku.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar